Wednesday, August 28

Sedikit coret2 dari artikel “Digital Natives, Digital Immigrants”



“Digital Native” dan “Digital Immigrant” adalah dua istilah yang digunakan Marc Prensky untuk membedakan keterkaitan manusia dengan teknologi saat ini.  “Digital Native” merupakan gambaran seseorang (terutama anak hingga remaja) yang sejak kelahirannya telah terpapar gencarnya perkembangan teknologi, seperti perkembangan komputer, internet, animasi dan sebagainya yang terkait dengan teknologi.  Sedangkan “Digital Immigrant” merupakan gambaran seseorang (terutama yang telah berumur) yang selama masa kehidupan anak hingga remaja berlangsung sebelum berkembangnya komputer. Pada artikelnya, Prensky lebih menitikberatkan Digital Native sebagai siswa yang masih belajar di bangku sekolah (dari TK hingga perguruan tinggi), sedangkan Digital Immigrant merupakan guru/dosen/tutor yang memberikan pelajaran di sekolah/ perguruan tinggi.

http://www.mondaynote.com/wp-content/uploads/2010/07/144-digital_native2.jpg?d81f8f


Tidak dapat dipungkiri bahwa saat ini siswa-siswi (TK hingga PT) setiap harinya berkutat dan dikelilingi oleh komputer, internet, handphone dan smartphone. Prensky menyebut mereka sebagai “native speaker” dari jaman komputer dan internet saat ini. Sehingga jangan heran apabila kita memberikan seorang anak sebuah smartphone, tidak membutuhkan waktu yang lama bagi anak tersebut untuk setidaknya mengetahui letak/posisi permainan pada smartphone tersebut dan bagaimana memainkannya. Hal-hal seperti contoh di atas ternyata telah jauh mengubah cara berfikir anak-anak saat ini sehingga mereka memiliki cara berfikir yang sangat berbeda dari kita (Digital Immigrant). Mengutip Dr Bruce  dari Baylor College of Medicine bahwa “Different  kinds  of  experiences  lead  to  different  brain structures“.

Berbeda dengan “Digital Native” yang sudah fasih dalam “berbahasa”  teknologi, kita sebagai “Digital Immigrant” harus belajar bahasa tersebut. Ada yang dapat beradaptaasi dengan baik ada juga yang teseok-seok dalam memahaminya. Tetapi sebaik apapun seorang non-native belajar pasti meninggalkan, yang disebut oleh Prensky sebagai, “accent”. Beberapa “accent” yang mungkin dapat kita lihat atau bahkan mungkin kita lakukan, antara lain: mencetak e-mail atau mencetak dokumen untuk mengedit tulisan, memanggil/mengajak seseorang ke meja kita untuk menunjukkan padanya sesuatu yang menarik di internet/website tertentu atau mungkin Anda mengirimkan email ke teman Anda kemudian Anda menghubungi dia melalui telephone dan bertanya “apa Anda sudah menerima email yang saya kirim?” atau mungkin beberapa contoh kecil yang memperlihatkan “accent” seorang Digital Immigrant.
Nah, masalah yang dihadapi sekarang adalah kebanyakan orangtua, guru, tutor, dosen merupakan Digital Immigrant, yang berbicara bahasa jadul. Mereka harus berhadapan langsung dengan siswa (Digital Native) yang “berbicara” bahasa baru yang sama sekali berbeda dengan bahasa yang dipahami oleh para Digital Immigrant. Sehingga tidak jarang para Digital Native tidak mengerti apa yang dibicaran oleh para Digital Immigrant, begitu pula sebaliknya.

Beberapa isu yang dikemukakan oleh Prensky terkait dengan cara/proses berfikir para Digital Native, antara lain: Dikarenakan para Digital Native menerima informasi dengan sangat cepat, sehingga mereka beradaptasi dengan cara dapat melakukan beberapa pekerjaan sekaligus (multi task). Mereka lebih memilih untuk melihat representasi dari suatu fenomena untuk kemudian mendeskripsikannya dengan kata-kata. Mereka cenderung bekerja secara random dan lebih memilih untuk bekerja dalam tim. Serta mereka lebih menyukai suasana yang serius namun santai. Sedangkan para Digital Immigrant, lebih kaku, lamban,  menginginkan tahapan-tahapan yang jelas (tidak random), focus, lebih individual dan SERIUS.
http://www.limkokwing.net/graphics/founder/blog/entry/native_vs_digital.jpg


Prensky mencontohkan para Digital Immigrant tidak percaya bahwa siswa dapat belajar di depan televisi atau sambil mendengarkan musik atau mungkin sambil chatting dengan smartphonenya hanya karena para Digital Immigrant tidak dapat melakukan hal2 tersebut. Tentu saja mereka tidak bisa, para Digital Immigrant berfikir bahwa belajar seharusnya memang tidak menyenangkan. Sedangkan, para Digital Native sejak awal memulai kegiatan belajar mereka bersama dengan Sesame street, Dora, Barney dsb.
Perbedaan dari cara pandang tersebut mau tidak mau mempengaruhi dunia pendidikan secara umum. Seorang guru yang merupakan Digital Immigrant berasumsi bahwa para siswa sama dengan mereka (dahulu) sehingga mereka menerapkan metode pembelajaran yang dahulu telah terbukti berhasil pada kegiatan pembelajaran untuk siswa saat ini (para Digital Native).

Lalu apa yang harus dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut?? Apakah para Digital Native harus belajar cara lama ataukah para Digital immigrant belajar cara baru?? Langkah yang paling mungkin untuk dijalani adalah yang kedua. Tidak mungkin kita dapat “memaksa” para Digital Native belajar cara lama selain karena struktur otak mereka telah berbeda dengan kita, saat ini hampir tidak mungkin bagi kita untuk menghambat atau mengontrol dengan ketat perkembangan teknologi yang ada.

Dengan mengambil langkah kedua maka sebagai pendidik kita harus mempertimbangkan hal2 terkait dengan metodologi dan konten yang akan kita berikan pada para Digital Native. Pada tulisannya Prensky lebih menitik beratkan pada konten terutama penggunaan permainan sebagai alat belajar, hal tersebut wajar jika melihat latar belakang Prensky yang merupakan seorang game desainer. Dan hal ini yang memang banyak kita temui saat ini, bagaimana siswa dapat belajar konsep, logika dan semua kemampuan berfikir tingkat tinggi tapi dengan cara yang menyenangkan.

"Our students have changed radically. Today’s students are no longer the people our educational system was designed to teach" (Marc Prensky, 2001)

jurnal dapat di download di:
https://www.dropbox.com/s/uc3rxdi2rvb6kas/prensky%20-%20digital%20natives%2C%20digital%20immigrants%20-%20part1.pdf